News Update :
loading...

Thursday, May 17, 2012

Anggapan Keliru Tentang Otopsi di Masyarakat


Pada beberapa kasus kematian tidak wajar, otopsi adalah jalan satu-satunya untuk mengetahui penyebab kematian. Namun pada kenyataannya, tidak semua proses otopsi bisa berjalan lancar. Masih banyak masyarakat, khususnya dari pihak keluarga korban yang tidak menginginkan hal itu dilakukan.

"Ada hal-hal atau situasi tertentu, di mana bedah mayat tidak bisa dilakukan. Karena tekanan-tekanan masyarakat dan tekanan sosial," ujar Prof. DR. Herkutanto, dr., SpF, ahli forensik dari Departemen Forensik dan Medikolegal FKUI/RSCM, saat acara seminar Peran Kedokteran Forensik dalam Sistem Peradilan, di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Salemba Jakarta, Selasa, (15/5/2012).

Herkutanto mengatakan, banyaknya penolakan otopsi yang datang dari pihak keluarga korban umumnya disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang otopsi. Padahal dengan otopsi bisa diketahui penyebab pasti kematian, mekanisme kematian dan saat kematian.

Banyak yang beranggapan bahwa proses ptopsi tidak berguna karena tidak bisa menghidupkan kembali korban yang sudah mati. Kemudian ada pula yang berpikir bahwa dengan diperiksa bagian dalamnya, maka ada organ tubuh yang kemudian diambil.

"Perlu diketahui bahwa organ-organ itu tadi tidak ada gunanya secara medis. Itu hanya suatu anggapan yang sangat keliru," jelasnya.

Oleh sebab itu, perlu beberapa persiapan sebelum proses otopsi dilakukan. Salah satunya adalah dengan memberikan penjelasan kepada keluarga, mengapa perlu pembedahan mayat, apa yang dilakukan dan setelah selesai organ tubuh dikembalikan ke tempatnya dan dijahit.

"Faktor penghalang utama memang kebanyakan dari keluarga. Kalau ada orang yang bukan keluarga lalu menghalang-halangi maka akan menjadi aneh," ujarnya.

Pemeriksaan forensik pada korban meninggal biasanya dilakukan atas permintaan penyidik/polisi pada korban mati yang diduga akibat tindak pidana, korban mati tidak wajar atau diduga mati tidak wajar.

Berdasarkan cara kematian, kematian dibagi menjadi dua, yakni kematian wajar dan tidak wajar. Kematian wajar adalah kematian yang disebabkan oleh penyakit. Sedangkan kematian tidak wajar biasanya karena bunuh diri, pembunuhan dan kecelakaan.

Kematian wajar paling banyak terjadi karena penyakit kardiovaskular (lebih dari 70 persen). Sedangkan kematian tidak wajar paling banyak karena kekerasan benda tumpul, tajam dan senjata api.

SUMBER

No comments:

Post a Comment

PENNTINNG !!!!!
silahkan tinggalkan komentar jika anda menyukai, jika anda kesulitan melakukan komentar dan tidak memiliki profil untuk komentar silahkan pilih profil Anonymous trimakasih salam dari saya Bhernanda Logan Dirgantara,,

 

© Copyright Astra Dirgantara 2010 -2016 | Design by Herdiansyah Hamzah fazer email gratis | Powered by mugen download mugen chars.